Son-shine Of My Life

Dear Kata,

Before I became a mother, I was an independent woman with complete control of my mind and my thoughts.

Before I became a mother, I never got gloriously happy over a simple grin, nor looked into teary eyes and cry for no reason. Never  knew how heartwarming it would be to see the baby grows.

Before I became a mother, I never knew how much love my heart could hold. Never that I knew something so small could affect my life so much.

Before I became a mother, I never knew the feeling of having my heart outside my body. Now I know.

Happy 3 months y.o my other half. Stay healthy, healthy, and healthy!! Thank you for becoming my whole world 🙂

With love,

Your proud Mama

wp-1466149971075.jpg

P.S:

I re-posted beautiful thoughts from a friend of mine (A.Y.R.A), because I feel the same thing. Becoming a mother is a most precious gift! 🙂

Untuk Papa

Jogjakarta, 13 Juni 2016

Halo Papa!

Mama bilang, Papa itu super hero-nya Kata, kayak yang banyak dikutip orang-orang itu Pa: Dad is a son’s first hero. Papa juga sering nge-eksis pake akun “Arki the super hero“, Wah! Tercapai tuh Pa, at least buat Kata dan Mama 🙂

Kata sayang Papa. Karena udah jagain Kata sejak masih dalam kandungan Mama. Waktu Mama hamil Kata, Mama selalu ajak ngobrol Kata, Mama bilang Papa selalu jadi orang pertama yang sigap kalau Kata mulai kasih kode apapun ke Mama. Selama Kata di kandungan Mama, kemauan Kata selalu Papa turutin. Mama ngidam ini itu Kata yang minta, selalu kesampean! 😀 Kalau Kata gak sengaja bikin kondisi Mama jadi gak nyaman, Papa pasti langsung ajak Mama ke dokter. Papa juga cekatan bantuin kerjaan Mama di rumah, supaya Mama gak kecapean, jadi Kata juga gak lelah. Waktu Kata semakin besar di perut Mama, kaki dan tangan Mama ikutan besar, tiap malam Papa gak pernah absen pijetin Mama biar rileks jadi Mama dan Kata bisa istirahat nyaman. Pokoknya Kata sayang Papa. 🙂

Kata sayang Papa. Pas Kata udah bosen di perut Mama, Papa jadi orang pertama yang nyemangatin Mama, supaya Kata bisa segera ketemu Papa dan kumpul bertiga sama Mama juga. Hari itu Kata udah ga sabar mau ketemu Papa, meskipun kayaknya hampir 9 jam Kata bikin perut Mama mules-mules gak nyaman kesakitan, dan papa gak sedetik pun jauh dari Mama. Papa pasang badan setiap Kata nyundul perut Mama mau keluar, Mama pasti mules luar biasa, Mama perlu pelampiasan supaya bisa nahan sakitnya, dan Papa selalu di samping Mama. Dipeluk ya, Pa? Apa dijambak? Apa digeraut muka Papa? Sekali-kali Pa, gapapa 😆 Pokoknya Kata sayang Papa. 🙂

Kata sayang Papa. Karena akhirnya Kata bisa ketemu Papa, bisa digendong sama Papa. Meskipun hari-hari pertama Kata hadir di dunia Papa Mama, Kata harus diurus dulu sama bu suster di ruang rawat karena Kata kurang oksigen ketambahan kena “kuning” pula. Tapi karena itu, Kata tau, Papa rela ngelakuin apa aja untuk Kata, supaya kita bertiga bisa cepet kumpul. Papa ikut begadang sama (nyemangatin) Mama pas Mama pompa ASI untuk Kata. Setiap dua jam Papa anter ASIP ke RS tempat Kata sementara dirawat bu suster. Setiap dua jam, sampai lewat tengah malam, rasa kantuk dan lelah pun Papa lawan demi antar ASIP buat Kata, walaupun ASIP Mama yang Papa bawa cuma ngebasahin pantat botol kaca Pa, dikit banget 😆 Pokoknya Kata sayang Papa. 🙂

Kata sayang Papa. Karena bulan-bulan pertama Kata jadi anak Papa, kita perlu beradaptasi ya Pa, dan Papa sukses! Mama bilang Papa gak pernah ngeluh meskipun harus gantian begadang sama Mama demi nemenin Kata yang masih belum bisa bedain mana siang mana malam. Di kandungan kayaknya sama aja Pa! 😀 Bahkan bukan cuma nemenin, tapi juga gantiin popok Kata! Nimang-nimang, ngindung-ngindung, ngempok-ngempok, padahal mata Papa udah ngantuk berat. Pokoknya Kata sayang Papa. 🙂

Sekarang usia Kata udah hampir 3 bulan, dan Papa tepat 30 tahun, tetep dong Kata sayang Papa!

Semoga kehadiran Kata di usia Papa ke-30 tahun ini dan selanjutnya selalu memberi kebahagiaan buat Papa ya. Panjang umur dan sehat terus Pa! Supaya selalu bisa menjaga dan mengiringi Kata tumbuh. Bisa main-main sama Kata. Bisa ngajarin Kata naik sepeda-motor-mobil. Bisa jadi orang pertama yang Kata tanyain ini itu,  soalnya mama bilang Papa itu “Mister Know It All“. Bisa ngasih petuah Kata nyari jodoh yang cantik kayak Mama (Eh! Emaknya narsis 😈 ).

Semoga kehadiran Kata di usia Papa ke-30 tahun ini dan selanjutnya juga selalu mendatangkan rezeki dan kesuksesan buat Papa.

Terakhir, selamat ulang tahun, Pa! Pokoknya Kata sayang Papa! 🙂

IMG-20160522-WA0005

Memaknai Kata

Setiap kata tentu punya makna. Begitu juga Kata anak saya. Kata siapa? Iya, Kata, anak saya.

Agak asing juga telinga pas Arki bilang mau nama anak pertama kami (harus) “Kata”. Mau laki, mau perempuan, pokoknya harus “Kata”. Pikir dipikir unik juga. Saya sendiri tidak terlalu ambisius mencari nama untuk calon anak kami waktu itu. Kali pertama ini, urusan nama saya serahkan ke Bapaknya, fokus saya waktu itu hamil sehat selamat sampai persalinan. Anak pertama, mau laki mau perempuan sama saja. Ini karena saya masih terbawa trauma keguguran hamil sebelumnya.

Sementara, Arki yang saya serahkan kepercayaan mencari ide dan inspirasi (macam apa sajalah 😀 ) untuk nama anak pertama kami, malah kebablasan. Dia malah sudah siap dengan nama untuk anak kedua, ketiga, keempat…eh, lah, no no, banyak amat sobh! Iya loh, Arki malah udah punya stok 4 nama, dua nama calon anak laki-laki, dua nama calon anak perempuan. Jiahhh ini mah saya cuma kebagian milih kombinasi dan diskusinya doang! 😐

Anyway, kami dikaruniai anak pertama berjenis kelamin laki-laki (ganteng deh! 😎 ), lahir hari Kamis, 17 Maret 2016, melalui proses persalinan normal dibantu oleh dr. Bharoto Winardi, Sp.OG dan beberapa suster bidan di Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta tepat pukul 15.15 WIB.

Saya dan Arki sepakat memberi dia dengan nama “Kata Gumira Anjatana”.

Kata sendiri artinya ya kata, kata tidak bisa lepas dari keseharian hidup manusia, menjadi unsur dari setiap lisan dan tulisan yang (pasti) memiliki makna.

Gumira berarti gembira, diambil dari Bahasa Sunda, suku dari mama saya (meskipun mama saya lebih suka dipanggil mbahti sih ketimbang nini/enin 😮 ). Dan mama saya senang, semacam dapat pengakuan gitu, walaupun (psstt.. jangan bilang mama saya ya 😛 ) sebenarnya memilih nama Gumira karena Arki pengagum karya sastra buatan Seno Gumira Ajidarma (buat yang gak tau, googling aja), diambil nama tengahnya. Jadi selain bermakna gembira, kalaupun nasib membawa anak saya menjadi seorang penulis, semoga permainan kata-katanya se-epic Om Seno (Duile Om! Ikrib banget kayaknya kita 😛 )

Anjatana, sering saya dan Arki jadikan tebak-tebakan gitu dulu awal-awal anak kami lahir dan banyak yang tilik jenguk. Kebanyakan pemirsah nebaknya berasal dari Bahasa Sansekerta namun ga tau artinya. Iya juga sih, kok jadi terdengar keren karena dugaan Bahasa Sansekerta itu (Loh?!). Barulah kami browsing arti dari Anjatana dalam Bahasa Sansekerta, dan… NIHIL! Ga ada Anjatana dalam Bahasa Sansekerta. Lantas?? (Kebanyakan ngemeng nih gw 😆 ). Oke. Anjatana itu sebenarnya akronim dari keberadaan saya dan Arki. Di tengah maraknya pemberian nama anak berasal dari nama Bapak dan Ibu-nya, Arki lebih memilih menyingkat gelar kesarjanaan kami. So, Anjatana adalah ANak (dari pasangan) sarJAna kehuTAnan dan perikaNAn. Yaa begitu dah intinya! -Anti mainstream banget Bapake Kata- 😆

Nah itu dia tadi arti nama anak saya kalau dijabarkan satu-satu. Tapi singkatnye ni ye penonton, Kata Gumira Anjatana artinya (menurut nyak babe nye), adalah anak yang terlahir dari kata-kata yang menggembirakan seorang sarjana kehutanan dan perikanan! 🙂

Selamat datang ke dunia cerianya Papa-Mama, Kata! Semoga kamu dapat survive!

IMG_7751

PS:
Semoga pas anak kedua nanti Saya dan Arki udah bukan sarjana lagi, naeklah setidaknya gelar pendidikan (AMIN). Biar si Arki bingung bikin akronimnya. Hahaha, piss Pah! ^^v

Perjalanan Mengantar Satu Jiwa Ke Dunia

LATE POST

Kamis, 17 Maret 2016

Waktu itu usia kehamilan saya sudah memasuki 38 minggu 2 hari. Tepat pukul 01.00 dinihari, mules. Ah biasa. Sejak masuk usia kehamilan 36 minggu saya sering mules. Kontraksi palsu katanya. Bingung bedain mana kontraksi palsu, mana hasrat buang air besar. Tahan aja deh.

01.30 WIB
Masih juga mules. Tidur ga nyaman banget. Si bocah di perut kok ya tumben ga ikut tidur, terasa tendangan-tendangannya. Ke toilet deh supaya ga mules lagi, sekalian pipis. Selesai, balik lagi ke tempat tidur dan berharap melanjutkan tidur dengan nyaman.

02.00 WIB
Walah masih mules. Setiap 30 menit sekali. Kontraksi nyata apa palsu ya ini? Duh. Tahan dulu deh. Tidur tetep gak nyaman, setiap 30 menit mules, pasti kebangun.

04.00 WIB
Mulesnya sekarang udah 15 menit sekali. Mulai grasak grusuk nahan mules. Bangun aja deh, ini kayaknya kakaboy udah mau ngajak keluar. Bangunin Arki minta tolong buatin teh anget. Saya mandi, keramas. Karena aselik, gerah banget, bumil gede ga pake kontraksi aja tidur kemeringet banget ketambahan perut mules, dan kalau memang hari ini saya melahirkan, ga tau beberapa hari ke depan lagi bisa keramas 😀

04.30 WIB
Kontraksinya masih 15 menit sekali namun makin sakit. Fixed ini kakaboy udah pengen keluar. Sehabis mandi, seruput teh, lalu saya menyelesaikan packingan lahiran yang sudah saya persiapkan sejak usia kehamilan 35 minggu. Satu koper besar keperluan saya dan Arki, satu diaper bag keperluan kakaboy dan satu tas jinjing berisikan barang-barang penting (dompet, hp, buku KIA, dokumen-dokumen, dll) langsung mendarat rapi di mobil.

05.00 WIB
Semakin cepat, sekarang 10 menit sekali kontraksinya terasa. Saya udah ga tahan rasanya pengen segera meluncur ke RS. Tapi kami belum sarapan, Arki nyuruh saya santai aja, duduk-duduk dulu, buat sarapan dulu, cemil-cemil nonton tv.

05.30 WIB
Bikin roti deh. Setiap 5 menit sekali sekarang perut saya mules. Alhasil nyiapin sarapan roti biasanya paling cuma 5 menit sekarang jadi 20 menit. Keburu mules, setiap mules datang saya ga bisa melakukan apapun, harus duduk sambil merem, merasakan kontraksinya lewat. Saya lantas mengabari mama saya di Jakarta bahwa sepertinya saya akan melahirkan hari ini.

IMG_7523

Ngabari mama, sekaligus minta ridho dan doanya, supaya proses persalinan saya lancar 🙂

06.00 WIB
Selesai sarapan, perasaan makin gak karuan. Kok makin cepat rasa mules berulang dan semakin sakit. Mulai serius ngitung rentang waktunya. What, ini kok sekarang udah 3 menit sekali?! Waktu ceramah kehamilan trimester tiga dulu, suster/bidannya bilang kalau kontraksi sudah 5 menit sekali, segera siap-siap, mandi, sarapan dan berangkat ke RS.

06.50 WIB
Semakin khawatir, akhirnya saya meluncur ke RS diantar Arki sang suami siaga yang harus bolos kuliah intensif hari itu. Lucu juga, pas hamil tua, hampir tiap malam Arki selalu ajak ngobrol calon anaknya: “Le, kalau udah ga sabar mau keluar, nanti pilih hari pas weekend atau menjelang weekend ya, biar papa ga banyak bolos kuliahnya.”
Eh.. Anaknya manut, nyundul-nyundul perut mama di hari Kamis! 😐

07.10 WIB
Tiba di Rumah Sakit Panti Rapih (lain waktu kalau sempat saya sharing mengenai kenapa milih RS ini dan pelayanannya, ya.. 🙂 ) sesuai prosedur saya masuk melalui UGD agar segera ditangani. Saya langsung di-handle oleh dokter dan suster jaga saat itu. Sementara Arki mengurus administrasi awal. Seperti biasa, saya dicek tensi dan periksa awal. Kurang lebih 20 menit saya berada di UGD sebelum dipindahkan ke kamar observasi.

07.30 WIB
Saya sudah di kamar observasi untuk observasi lebih lanjut serta persiapan sebelum ke kamar bersalin. Satu dua suster (bidan) bergantian mendatangi saya, sampai tiba yang saya tunggu-tunggu (gak nunggu-nunggu banget juga sih sebenernya, katanya sakit banget! 😕 ), periksa dalam!

08.00 WIB
“Sudah bukaan berapa sus?”. Saya sudah gede rasa, kontraksi sudah 3 menit sekali pasti sudah bukaan banyak nih, jadi semoga ga nunggu lama sampai bukaan lengkap. “Baru bukaan satu mbak, pulang dulu aja masih bisa ini.” Whaaaatttt? Hahahahaha langsung lemyes saya, tapi tetap harus semangat. “Lha gimana sus, mulesnya udah gak tahan ini, kirain dah bukaan 4.” 😆 Dan saya memutuskan untuk tetap di RS saja.

09.00 WIB
Pertambahan tiap jam berikutnya terasa amat sangat lama! Setiap jam bukaan hanya nambah satu. Oiya, pagi itu saya ditemani suamik tercinta dan ibuk mertua. Bapak mertua dan adek ipar masih ada urusan paginya. Sementara bapak, mama dan adek saya di Jakarta baru bersiap-siap menuju Jogja.

IMG_7528

Kontraksi bukaan 1, masih konsisten atur napas, dan Arki masih sempat mendokumentasikan. Bukaan selanjutnya? Arki sibuk saya jambakin! 😛

10.00 WIB
Kontraksi masih setiap 3menit sekali. Saya sangat disarankan untuk tidak hanya duduk dan berbaring di tempat tidur. Sesekali disuruh jalan-jalan, harapannya agar bukaan nambahnya cepat. Dan makan secara berkala sebelum bukaan banyak, agar menambah asupan tenaga untuk proses persalinan nanti. Nyatanya? Masuk bukaan tiga jangankan buat jalan-jalan, duduk aja saya udah gak sanggup. Pas bukaan dua masih bisa duduk, berbaring biar gak pegel dan stabil atur napas. Pas di bukaan dua saya masih mau ngunyah roti dan cemilan (ah lupa! Yang keinget cuma rasa kontraksinya), setelah masuk bukaan tiga ga ada hasrat makan sama sekali, paling sesekali minum air putih atau minum manis.

11.00 WIB
Bukaan 4. Saya dipindah ke ruang bersalin. Menurut suster saya termasuk cepat setiap satu jam bukaan nambah 1, dan biasanya setelah lewat bukaan 4, pertambahan bukaan lebih cepat lagi.

IMG_7553

Ruang bersalin hanya berjarak kurang lebih 30 meter, saya memutuskan untuk jalan saja daripada pakai kursi roda. Dengan postur tubuh tergopoh-gopoh dan tiap kontraksi saya berhenti dulu pegangan besi tembok, ruang bersalin berasa jauh banget!

12.00 WIB
Jengjengjeng….. Drama persalinan di mulai. Masuk bukaan 5, mulai gak konsisten narik napas tiap kontraksi datang, mulai gak bisa nahan teriakan, mulai senewen sama apapun, mulai ga mau dengar masukan apapun. Arki utak atik hp -yang mungkin penting- saya marahin. Ada beberapa sodara yang masuk (yang memang nunggu proses persalinan di luar ruangan) saya gak mau lihat, cenderung jutek. Suster masuk ngasih saran ini itu malah balik saya jutekin. Pokoknya udah ga bisa beramah-ramah. 😆 Makan siang datang disiapkan RS, rasanya saya udah ga sanggup ngapa-ngapain selain berusaha nahan sakit (dan ngeden!), tapi saya paksakan untuk tetap makan walaupun sedikit.

IMG_7534

Bujug gede banget! Hahaha saya baru sadar sebegini buntalnya saya kalau bb sampai 80kg! 😈

13.00 WIB
Bukaan 6. Bukaan dimana saya sudah merasa tidak waras. 😆 Kontraksi semakin cepat. Setiap kontraksi datang teriakan saya kayak orang dicambukin (hahaha lebay), iya teriakannya lebay banget. Alih-alih nahan sakit bukannya saya atur napas saya malah lebih memilih teriak-teriak. Saya juga heran, saat itu saya merasa sudah tidak bisa bernapas, tapi kok bisa teriak ya? Entahlah. Bukaan 6 buat saya paling berat, karena saya tau dokter belum mau akan datang, secara dokter biasa nongol kalau sudah bukaan 9 atau lengkap kan, padahal saya udah merasakan sakit amat sangat. 😦

IMG_7550

Mulai gak waras, tiap kontraksi datang, Arki saya peluk/cengkram/cekek/cakar (lha serem amat) kenceng banget, oiya, plus jambak! Mungkin banyak rambut rontok dia di ruang persalinan 😆 Saking sakit kontraksinya, saya sampai memohon ke Arki untuk di-sesar aja. “Aku ga bisa disesar aja? Aku mau sesar. Sesar aja pliiiss…. SESAAARRRR. Ini sakit banget!” dan segala racauan saya lainnya. Untung Arki lebih waras. 😐 Selain biaya sesar yang jauh lebih mahal (di RS ini biayanya 4x dari persalinan normal), pasca operasi sesar yang (katanya) gak kalah menyakitkan dari lahiran normal, kondisi saya masih sangat memungkinkan untuk melahirkan normal. Bukaan saya nambah secara berkala, tidak ada tindakan induksi, fisik dan stamina saya yang terlihat masih kuat. Jadi, setiap saya minta di-sesar, Arki cuma senyum-senyum aja. Dan saya gak suka dengan senyuman itu! Akhirnya saya ngamuk gak waras lagi 😀 Duh, kasian banget suamik gw 😆

IMG_7557

Aku kudu seteroonggg.. Aku kudu kuwatt.. Kudu inget-inget kalo di-sesar tabungan bisa jebol.. Yes!! Aku mesti iso iki!!

14.00 WIB
Sejak bukaan 6 saya udah ga bisa nahan ngeden. Tiap kontraksi datang, saya bukan narik napas atur napas panjang-panjang, saya malah teriak-teriak, nahan napas dan ngeden! Arki yang gak sedetikpun jauh dari sisi saya mulai khawatir, karena suster dari awal sudah bilang kalau saya jangan ngeden dulu sebelum bukaan lengkap (10). Suster datang memperingatkan saya untuk nahan ngeden sampai bukaan lengkap atau at least sampai dokter datang dan disuruh ngeden sama dokter. Suster nyuruh saya jangan teriak-teriak, simpan tenaga buat mengejan nanti, suster ngelarang saya ngeden, suster nyuruh saya untuk stabil ambil napas. “Oh ga bisa suster!!!! Ini saya refleks!!!! Ini yang ngeden bukan saya, anaknya yang ngeden udah pengen keluar!!!! Dokter Bharoto mana siiiiiiih???? Kan rumahnya deket aja dari sini!!!!” Hahahaha kira-kira seperti ini summary dialog saya dengan suster di ruang bersalin, dengan tanda seru yang banyak pertanda saya bicara dengan tegas dan galak (dan gak waras karena nahan sakit).

IMG_7564

Suster mengingatkan saya untuk menerapkan apa yang sudah saya terima di kelas senam hamil dan hypnobirthing yang saya ikuti. Tapi dalam kondisi itu, semua salah di mata saya. Pokoknya saya mau marah-marah. Saya mau anak saya cepet lahir. Biar sakitnya selesai saya ketemu anak saya. “Semua teori doang suster! Hypnobirthing apa itu? Ga ngefek! Sakit mah sakit aja! Senam hamil cuma diajarin ngeden kalau udah bukaan 10 tapi ga diajarin nahan ngeden! Saya mau Dokter Bharoto sekaraaaaang” Pokoknya saya galak! 😆

15.00 WIB
Bukaan 6 dan 7 drama paling saya ingat sepanjang hidup saya melahirkan anak pertama. Begini ternyata rasanya. Seingat saya jam 3 sore kurang 15 menit, saya sudah bukaan 8, Dokter Bharoto (obgyn kesayangan saya) pun akhirnya tiba di ruang persalinan. Ngeliat dia saya kayak ngeliat malaikat penolong raga (eh emang ada ya?) pokoknya dia penyelamat saya. Meskipun kontraksi semakin sakit tapi saya jadi lebih tenang, karena melihat dokter satu ruangan dengan saya itu artinya gak lama lagi saya akan melihat kakaboy!

Kehadiran Dokter Bharoto memang dipercepat karena saya rewel minta dokter segera datang. Biasanya dokter baru datang ke ruang persalinan pada saat pasien bukaan 9 atau lengkap. Sementara saya sejak bukaan 6 udah ga sanggup nahan ngeden, pas periksa dalam bukaan 7 menurut suster jalan lahir saya sudah bengkak akibat saya ngeden sebelum bukaan lengkap. Yang menyebabkan jalan lahir bengkak karena kesundul/kegencet ketekan kepala bayi padahal jalan lahirnya belum cukup/terbuka sempurna. Selain itu karena saya ga kuat nahan ngeden, air ketuban banyak yang rembes. Dua hal ini jadi mengkawatirkan karena bayi dalam kandungan saya juga mungkin stres dan lelah, kekurangan oksigen, detak jantung menurun atau resiko kepala tidak simetris karena dipaksa keluar tetapi jalan lahirnya belum muat.

15 menit setelah dokter tiba, akhirnya beliau nyuruh saya ngangkang (seneng luar biasa! Gak kalah seneng kayak kalo suami yabng nyuruh. #eh #lah #pegimane 😛 ). Memang baru bukaan 8, dengan pertimbangan jalan lahir saya sudah bengkak dan ketuban banyak yang rembes akhirnya dokter menggunting jalan lahir saya, saya sendiri bisa mendengar efek suara dari menggunting itu! Sssttt ngilu ya ngebayanginnya, tapi percaya deh, sama sekali ga ada rasa sakit! Kalah sama mules kontraksi yang saya rasakan sejak bukaan 1 sampai 8 ini. Guntingan itu dibuat setara dengan bukaan 10 agar bayi saya bisa keluar.

Oke. It’s show time. BISMILLAH!! Dengan Arki di sisi kiri saya, satu suster di kanan saya, dua suster di kiri dan kanan pak dokter, akhirnya saya diperbolehkan ngeden juga! Saya sudah ingat-ingat terus teori yang diberikan pada saat senam hamil, ketika proses ngeden, mata dilarang merem, ga usah berteriak mengeluarkan suara, telapak kaki menatap ke kasur, dan pada saat mengangkat badan ke arah perut nafas dihembuskan. Tapi teori tinggalah teori, prakteknya mendadak amnesia sist! Oke ngeden pertama kakaboy belum bisa keluar, menunggu kontraksi selanjutnya untuk ngeden kedua. Ngeden kedua juga gagal. Saya melihat raut raut panik di wajah dokter dan suster sementara saya dan Arki tidak tau itu pertanda apa. Ya Tuhan, udah stres banget saya, apapunlah saya pasrah asal saya dan anak saya selamat. Lalu satu suster mengambil posisi Arki, sehingga Arki harus mundur tidak lagi di samping saya tapi masih dalam jarak pandang saya. Suster pun naik ke atas ranjang (sisi kiri saya), pada proses ngeden ketiga, perut saya ditekan kuat sekali ke arah bawah tujuannya untuk membantu bayi bisa keluar segera.

15.15 WIB
Kompak pada hitungan ketiga, saya ngeden, suster mendorong perut saya, dan..plooongg! Lega banget, anak saya sudah lahir! Eh bentar, mana tangisan bayi saya? Mana? Kakaboy kok ga nangiss sihh? saya mengakap suasana panik dalam ruangan, dokter dan suster langsung sigap mengambil tindakan, Arki bilang kakaboy dimasukin selang di mulutnya agar bisa nangis, sementara saya hanya terbaring lemas tidak bisa merespon apa-apa. Sekitar 20 detik, akhirnya tangisan jagoan saya terdengar juga. ALHAMDULILLAH….

Saya rasa saya sudah kehabisan tenaga untuk apapun, karena sejak bukaan 6 banyak berteriak, marah-marah, ditambah lagi habis energi pada saat proses ngeden tadi. Saya terbaring lemah, tapi saya sadar di kiri saya dua suster sibuk membersihkan anak saya dalam box bayi disaksikan oleh Arki yang pasti udah penasaran banget rupa anaknya kayak gimana 😛 Saya juga penasaran tapi saya gak sanggup ngapa-ngapain, bahkan ngomong aja kayaknya lemes banget. Yang saya ingat saat itu saya bertanya, “Gimana anak saya? Selamat? Sehat? Lengkap? Dan semua pertanyaan saya itu dijawab “Iya”. Seketika rasa sakit yang sejak pagi saya rasakan hilang semua. Pak dokter dan satu suster masih mengeluarkan ari-ari dilanjutkan dengan menjahit mengobras (karena pakai digunting jadi proses jahit menjahit banyak dan lama 😆 ) areal V-saya, saya pasrah aja, lemas, tubuh serasa tak bertulang.

IMG_7579

Proses setelahnya dokter dan suster melakukan tindakan sesuai prosedur terhadap bayi baru lahir. Oiya saya gagal IMD (Inisiasi Menyusu Dini), karena tangis anak saya delay 20 detik jadi harus segera dilakukan pemeriksaan intensif. Apapun lah ya yang penting kakaboy sehat selamat!

Detik-detik, menit-menit, jam-jam selanjutnya berlalu sangat cepat. Setelah kakaboy dibersihkan, papanya mengadzani, saya diperbolehkan mencium kakaboy dan selanjutnya kakaboy dibawa ke ruang intensive care bayi. Lain waktu saya sharing cerita lanjutan selama di RS pasca persalinannya ya.

And.. Here he is, our bundle of joy!

IMG_7577

KATA GUMIRA ANJATANA

Kata Gumira Anjatana, anak laki-laki kami yang terlahir dengan berat 3000 gram, panjang 50 cm pukul 15.15 WIB. Terlahir dengan sehat, sempurna dan baik sekali. Terimakasih Ya Alloh Gusti.. akhirnya akan ada yang memanggil saya Mama, terimakasih telah memberikan saya kesempatan merasakan proses melahirkan secara normal, mudah tidak dipersulit dan terbilang cepat. Terimakasih Arki my super hero ( 😎 ) suami supersiagaku tersayang, bapak dan mama saya yang pasti mendoakan dari jauh, papa dan mama mertua saya yang mencurahkan waktu dan tenaganya menunggui saya, the coolest obgyn in Yogyakarta (in my version, ofcourse!) Dokter Bharoto Winardi, Sp.OG dan para suster yang membantu persalinan saya. Semoga Tuhan membalas kebaikan kalian semuaaa. Dan, buat Mas Kata-ku sayang, yang telah berbaik hati hadir dan sabar selama di rahim mama.

Welcome to the world, Le! Hope you will be survive. We love you, to the moon and back! 🙂

PS. 1:

No offense, tidak semua praktek hypnobirthing yang dijalani ibu hamil gagal seperti saya (yaiyalah, liat noh komunitas bidan yessie hypnobirthing Indonesia, sukses semua! salut! 🙂 ), sayanya aja yang bebal gak sukses di-hypnotis. Dan telat, saya baru ikut kelas hypnobirthing 2x, di minggu ke 36 dan 37, pas minggu ke 38 mau ikut kelas yang ke-3 eh keburu mbrojol. Dan memang bagusnya hypnobirthing dilakukan dan diikuti sejak usia kehamilan muda. Jadi silakan mencoba ya. Katanya, pada proses melahirkan tidak ada rasa sakit, yang ada hanya rasa tidak nyaman. Tapi saya sakit mah sakit aja. Hehehe. Good luck!

PS. 2:

No offense lagi. Senam hamil saya ikuti sebanyak 5x sejak usia kehamilan 28 minggu. Saya sengaja ikut 2 minggu sekali saja, karena saya cukup aktif jalan pagi dan berenang juga setiap minggunya, jadi biar gak over workout, takut kecapean. Nah untuk senam hamil, saya hanya ikut kelas yang ada di RS. Panti Rapih, karena memang sudah niat akan melahirkan di RS ini, di kelas ini diajarkan cara atur (tarik dan hembus) nafas saat kontraksi, senam olah tubuh merilekan badan, posisi persalinan serta caranya ngeden yang benar, namun tidak diajarkan cara nahan ngeden! Padahal penting loh itu menurut saya. Karena ini pengalaman pertama saya, saya ga ada bayangan, ga tau, ga pernah ngalamin, ternyata kalau sudah masuk bukaan 6 tubuh memang reflek ngeden karena proses kontraksi dan pergerakan bayi yang semakin kuat. Pada saat hamil saya skip sekali soal ini, saya taunya pokoknya nanti bukaan 10, ngeden! Hehehe apa sayanya aja itu mah ya. Overall semua proses olahraga yang saya jalani selama hamil rasanya sangat berpengaruh besar terhadap suksesnya saya melahirkan secara normal (meskipun penuh drama juga sih). 😀

PS. 3:

Banyak amat pe-es-nyaaa…!! Hehehe. Postingan ini nyata adanya berdasarkan apa yang saya alamin. Tanpa ada maksud mengemukakan kegagalan proses hypnobirthing saya, senam hamil, kesakitan dan lain-lain. Kembali lagi bahwa kondisi badan dan fisik tiap ibu hamil (calon ibu) berbeda-beda. Saya buat postingan ini terbaca sangat detail, buat saya baca-baca kembali, atau “warisan” ke anak saya kelak kalau dia sudah dewasa dan cukup mengerti. Ini lah salah satu bentuk perjuangan papa mama-nya mentransfer kehidupan untuknya 🙂

Hela nafas…(hhmmppff) akhirnya selesai juga! Terimakasih sudah membaca ya, sampai jumpa di postingan panjang saya lainnya! :mrgreen:

Buat yang mau lahiran normal, kuncinya satu, mangaaatssss kakaaakkkkss!! KAMU PASTI BISA!!

IMG_7606

And.. here is the coolest obgyn in Yogyakarta (in my version, ofcourse!) Dokter Bharoto Winardi, Sp.OG. Thank you, Dok! 🙂

The Third Trimester (28 – 40 weeks)

HAI!

Hari ini anak saya sudah mengulang 2x tanggal 17. Lahir 17 Maret 2016.

Loh? Udah lahiran?

Udaaaahhh! Udah 2 bulan. Makanya ini blog juga udah 2 bulan gak update. Setelah dilanda balada Mamak Amatir selama kurang lebih dua bulan ini (yang mana boro-boro buat sempet ngeblog, bisa makan, mandi, tidur proper aje udah Alhamdullillah gustii… 😀 ) akhirnya mulai bisa ngulik-ngulik blog lagi.

Pertama daripada mubadzir, blog post yang di kolom draft diposting dulu aja deh. Jadi ceritanya pas mau sharing pengalaman trimester ketiga udah semangat banget kalau itu bukan postingan latepost, pas lagi hamil usia 38 minggu, HPL di usia kehamilan 40 minggu. Taunya draft blog belum sempet diposting besoknya si kakaboy minta keluar ketemu mamanya! Yes, kelahiran anak saya maju 2 minggu dari HPL. Lain waktu saya sharing pengalaman melahirkan yaa……..(semoga sempat 😀 )

Ini cerita pengalaman saya melewati masa kehamilan trimester terakhir. Selamat membaca! 😛


Yes, I’m on this stage now! Almost due date malah 😆

Akhirnya, tulisannya update terkini, bukan late post lagi 😛 . Minggu ini kehamilan saya memasuki usia 38 minggu! Bentar lagiiii… makin hari makin deg-deg-an pemirsah! Doain yaa semoga persalinan saya lancar jaya! Sehat kakaboy, sehat mamak, biar kami segera dapat berpelukan mesra #ihiyy 🙂

30 weeks.jpg

Memandang masa depan di usia kehamilan 31 minggu 😆 (Lokasi: Pantai Parangtritis, Jogja)

Jadi sekarang saya mau sharing pengalaman saya melewati masa-masa hamil trimester ketiga. Mostly apa yang saya rasakan di trimester kedua masih kebawa sampai trimester ketiga, selain itu ketambahan hal-hal di bawah ini:

GERAH (sengaja saya ulangi lagi, gerah)
Subhanalloh ya gerahnya ampun-ampun sejak masuk usia hamil 7 bulan. Musim penghujan bukanlah penolong. Sekarang setiap malam saya tidur harus pakai AC, kalau dulu trimester pertama dan trimester kedua saya masih sukses pasang off timer untuk AC lewat tengah malam, sekarang boro-boro. Off timer-nya masih aktif sih tapi paling kuat tahan 20-30 menit sejak off, abis itu pasti saya kebangun dengan kondisi kegerahan dan badan sudah bercucuran keringat, lantas? Nyalain lagi sampai pagi! Selain itu intensitas mandi dan ganti baju daster dan underwear meningkat, sehari sampai 4x. Jadi banyak cucian kan. Gak hemat AC, ga hemat detergent dan air. Duh, gak ramah lingkungan banget pokoknya! 😦

Semoga nanti kalau kakaboy udah lahir, suasana bisa lebih adem ya, kak 😈

SWOLLEN
I repeat, welcome to my (whole) swollen body! Swollen cheek, nose, finger hands, feet, yes feet!

bengkak.jpg

Pokoknya kalau lagi hamil, kamu dilarang keras kepedean sama kondisi tubuh kamu yang kamu kira ga bakal ngalamin yang kebanyakan orang lain alamin. Misalnya kayak pembengkakan di beberapa atau seluruh bagian tubuh. Saya gitu soalnyaa 😆 . Teman-teman saya sesama ibu hamil atau yang sudah berpengalaman hamil duluan, rata-rata masuk 7 bulan (28 mingguan) sudah mulai mengalami pembengkakan, bahkan ada yang mulai bengkak sejak trimester kedua. Saya kala itu sudah masuk minggu ke 33, tapi semua aman terkendali. Happy luar biasa dong ya.

Tapi.. Duarrr! Pas masuk minggu ke-34 semua berubah seketika! Duh, sepatu olahraga, sepatu pergi, sendal sepatu, sendal (pokoknya semua alas kaki) andalan-andalan saya kok mulai sempit ya? Sesak dan menyakitkan kalau dipakai. Cek punya cek, ternyata punggung kaki saya menggelembung 😮 . Awalnya hanya punggung kaki, lama-lama menyeluruh ke bagian pergelangan kali, betis dan paha.

IMG_20160215_174549.jpg

Pergelangan kaki saya di minggu ke-34, dan saat ini (minggu ke38) masih lebih besar. Foto betis dan paha tidak untuk konsumsi umum :mrgreen:

Yang paling terasa dan terlihat memang pembengkakan di kaki dan (jari-jari) tangan. Jari-jari tangan saya kalau tidur malam sampai terbangun di pagi hari volumenya bertambah, boro-boro buat pakai cincin kawin, buat menggenggam tangan suami saya kalau mau bobok malam (#eeaa) aja sudah kebas. Jari tangan jadi bulet-bulet banget, gemes sendiri liatnya 🙄

Pembengkakan lainnya terjadi di pipi, hidung dan dagu (I have double chin now!). Kalau mau difoto harus pinter-pinter cari angle yang pas, biar gak keliatan bengep kayak abis dipukulin algojo 😎

35 weeks

Contohnya kayak gini foto dengan angle yang pas. Hidung, pipi dan double chin gak keliatan, apalagi kaki yang bengkak! 😈 Ini memasuki usia kehamilan 35 minggu. (Lokasi: Puncak Becici, Imogiri Bantul, Jogja)

Oiya, omong-omong soal bengkak, terutama pembengkakan di kaki, perlu dapat perhatian khusus. Saya awalnya juga khawatir, berdasarkan info yang saya tau, pembengkakan di kaki biasanya terjadi karena dua hal, pertama karena ibu hamil yang kurang gerak, kedua karena kadar garam yang berlebih. Kalau kurang gerak, secara saya ngurus rumah sendirian ya tanpa ART, gerak kesana kemari lincah aduhai pokoknya. Plus sejak trimester kedua, saya tergolong yang rajin olahraga (either swimming or just brisk walking) seminggu bisa 2-3 kali, masuk trimester ketiga malah ketambahan senam hamil segala. Nah saya curiga kadar garam dalam tubuh saya yang tinggi, kelebihan kadar garam dalam tubuh katanya bisa menyebabkan pre-eklamsia berlanjut ke eklamsia pada saat persalinan. Untuk penjelasan mengenai pre-eklamsia dan eklamsia mungkin lebih lanjut bisa browsing sendiri yaa 🙂

Atas saran obgyn juga, pergilah saya ke lab untuk cek darah. Untuk mengetahui apakah kadar garam dalam tubuh berlebih atau tidak, akan dicek protein darahnya. Kalau positif tandanya kelebihan kadar garam sehingga ibu hamil harus diet garam (zzzz ga enak banget), kalau negatif artinya kadar garam dalam tubuh aman-aman saja. Btw, saya gak tau apa relasinya garam dalam tubuh dengam protein dalam darah (lupa nanya alasannya ke obgyn, males browsing, percaya aja sama penjelasan obgyn saya 😕 ). Hasil dari cek protein dalam darah saya negatif (Alhamdulillah). Sejak minggu ke 34, sekarang minggu ke 38 saya sudah 2 kali cek protein darah, just to make sure kalau tidak ada peningkatan kadar garam dan meminimalisir gejala pre-eklamsia.

Lha, terus kaki saya bengkak kenapa dong? Usut punya usut, ternyata saya overweight! 😛 . Dari hasil konsul sama obgyn, pembengkakan di kaki (dan sebagian besar tubuh saya) jelas karena saya kelebihan berat badan. Dari awal masa kehamilan, obgyn saya sudah menyarankan agar saya senantiasa menjaga pola makan, maksimal pertambahan berat badan saya diharapkan hanya naik 12 kg dari sebelum hamil. Kenapa? Karena bobot saya sebelum hamil sudah berat cyin! Jadi kalau lebih dari 12 kg itu ya efeknya bengkak-bengkak ke tubuh saya, kaki menopang berat badan yang bertambah cukup signifikan dari masa sebelum hamil, sehingga cairan menumpuk di tubuh bagian bawah.

Katanya pembengkakan di kaki ini akan kembali normal dengan sendirinya nanti setelah melahirkan. Sementara itu untuk mencegah semakin besar pembengkakannya, disarankan untuk: 1. Tidak duduk dengan posisi kaki menggantung terlalu lama, untuk ibu pekerja kantoran bisa mensiasati dengan membawa ganjalan kaki pada saat duduk (hmm apa ya? Semacam kursi lipat/dingklik gitu kali ya); 2. Tidak berdiri dengan posisi yang sama (diam) terlalu lama, misal pada saat memasak atau mengantri atau aktifitas lainnya, sebisa mungkin ada pergerakan kaki; 3. Tidur dengan kaki diganjal bantal, usahakan lebih tinggi sari posisi badan sehingga sirkulasi darah lancar tidak menumpuk di kaki. 4. Perbanyak istirahat udah paling pas deh kalau kaki lagi bengkak-bengkaknya 😛

FYI, bobot tubuh saya per-usia kehamilan 38 minggu ini sudah naik 18 kg dari sebelum hamil 😐

CARBO DIET
Nah.. Buntut dari terlalu banyaknya pertambahan berat badan saya tersebut, saya disarankan untuk melakulam diet karbo oleh obgyn deh 😳

Saya agak terlena memang ketika obgyn pilihan saya (dr. Bharoto Winardi, Sp.OG) beberapa waktu lalu sempat mengalami serangan jantung yang menyebabkan beliau tidak praktek dulu selama kurang lebih 2 bulan. Saya sempat cerita di postingan blog saya sebelum ini (siapa tau mau baca! 🙂 ). Selama tidak kontrol dengan dr. Bharoto, berat badan saya tidak pernah disinggung ketika kontrol dengan obgyn pengganti sementara. Ya seperti yang sering saya kemukakan, tiap obgyn memang punya pendapat/knowledge/gaya-nya masing-masing. Kenaikan berat badan saya yang mencapai 16 kg ketika hamil 8 bulan masih tergolong wajar menurut obgyn pengganti dr.Bharoto. Sooo… Saya ikut tenang-tenang aja deh 😀

Tanpa saya sadari, ternyata kenaikan berat badan pada masa kehamilan trimester ketiga itu cepet banget ya! Dan ketika tiba kembali kontrol dengan dr. Bharoto (beliau sudah sembuh, sehat walafiat kondisinya saat ini! Yeay!) sudah bisa ditebak dong yaa saya disindirin, hahaha. Gapapa! Plus akhirnya saya disarankan untuk diet karbo. Sebisa mungkin tidak makan nasi dan mengurangi jenis karbo lainnya. Lebih mudah sih daripada harus diet garam, tapi ya jadinya kelaperan terus.

Usia 36 minggu, berat kakaboy diperkirakan 2.7 kg. Tergolong kebesaran dari seharusnya, harusnya sekitar 2.3 kg. Apalagi saya berencana untuk proses persalinan normal, nantinya akan sangat menyulitkan saya mengingat due date masih 4 minggu lagi. Menurut dr. Bharoto, pertambahan berat badan bayi kalau sudah masuk bulan ke-9 seperti ini per-minggu sekitar 2.5 ons which means akan nambah 1 kg lagi sampai kira-kira tiba saat persalinan sehingga diprediksikan saya harus melahirkan kakaboy dengan berat 3.7 kg :mrgreen:

Akhirnya 2 minggu ini saya mengikuti saran Pak Dokter. Tidak berhenti total sih, ya atulah gimana total ngindarin karbo sayanya malah lemas. Tapi saya sudah sangat jarang makan nasi, asupan karbo masih tetap ada dari roti tawar setiap sarapan pagi. Sumber-sumber karbo lainnya saya hindari, macam kentang, sereal, singkong, cemilan bergandum dll. Kalau siang dan malam biasanya saya cuma makan sayur dan lauk pauknya aja. Kelaparan di jeda-jeda jam makan? Pastinya! Saya hajar dengan buah dan air putih (kadang teh, sedikit kopi, paling sering jus alpuket 😀 ). Dan Alhamdulillah, kontrol terakhir berat badan bayi saya hanya naik 1 ons (perkiraan naik 5 ons kalau saya tidak diet karbo), meskipun berat badan saya tetap naik 2 kg sih dalam 2 minggu 😥

KENDALA TIDUR MALAM

Path 2016-02-03 05-50
This is maybe most common problem for expecting women at third trimester kali yaaa…. Saya sendiri mulai kehilangan rasa nyaman tidur malam (dan siang) pas mulai masuk usia kehamilan 8 bulan, sekitar 31 minggu ke atas. Proses ‘kemajuan’ perut sangat cepat dan signifikan, besar sekali. Badan juga terasa sangat berat.

Posisi tidur

Biasanya saya mengawali tidur dengan posisi miring ke kiri seperti yang banyak disarankan obgyn, praktisi kesehatan atau buku-buku panduan kehamilan.

Terus kan pegel ye bok kalau ga ubah-ubah posisi, tapi kalau mau pindah posisi – hahaha – tugas berat menanti, ngegeser posisi tidur dari miring kiri ke kanan ibarat memindahkan truk pasir (hiihh mulai keluar lebaynya), pelan-pelan, geser dikit-dikit, dorong sekuat tenaga dan hati-hati. Jadi posisi tidur saya ya kalau ga miring kiri, miring kanan. Pegel emang, mau tengkurep ngayal aja dulu, mau telentang selanjutnya napas kayak ikan mas koki megap-megap. Eh tapi memang sangat disarankan untuk ibu hamil tidur miring kiri loh, berdasarkan pregnancy guideline book “what to expect when you’re expecting” yang saya baca, bahwa tidur miring ke kiri saat hamil lebih memperlancar sirkulasi oksigen dalam tubuh sehingga calon bayi juga memperoleh asupan oksigen yang cukup, namun tetap tidak apa juga kalau mau miring kanan, setidaknya Rasullullah SAW juga sudah mensunahkan hambanya untuk tidur malam dengan posisi miring kanan (tssahhh mendadak religius 😎 ).

Keram kaki, kebas tangan, punggung nyeri (lengkap banget dah, sistbro!)

Efek dari proses pembengkakan di hampir seluruh bagian tubuh seperti yang sudah saya bahas di atas adalah tengah malam (kadang menjelang subuh juga) saya jadi sering terbangun. Punggung yang tiba-tiba nyeri karena kadang secara tidak sadar posisi tidur sudah dalam keadaan telentang – biasanya gak lama terus sadar, soalnya eungap cyin saluran pernafasan kayaknya tertekan bayi dalam perut – terus mau perbaiki posisi miring kanan atau kiri. Dan kaki tangan yang tiba-tiba keram, sama sekali ga bisa digerakan. Kalau udah kesakitan banget, lagi-lagi saya harus membangunkan suami untuk minta diluruskan/pijit ringan supaya nyeri dan keramnya hilang. Padahal saya terbilang cukup rajin olahraga berenang (jalan di air) atau jalan paginya, katanya kedua olahraga ini bisa meminimalisir nyeri dan keram pada saat tidur malam. Tapi tetep aja tuh, ketidaknyamanan melanda 😐 . Nah tapi ga tau deh kalau semisal saya sama sekali memang tidak pernah olahraga (renang dan jalan pagi) itu, mungkin bisa saja nyeri dan keram terjadi setiap malam atau sepanjang waktu, atau sudah mulai dari trimester dua. Diambil positifnya saja 🙂

Kemudian jari-jari tangan saya menjadi sangat kebas pada saat tidur malam, apalagi pas bangun pagi harinya, sangat sulit digerakkan, kira-kira butuh 15 menit sejak terbangun baru bisa bergerak normal. Berbeda dengan pembengkakan di kaki, jari-jari tangan saya justru menjadi lebih besar (bengkak) pada saat tidur. Kalau kaki kan, kalau terlalu banyak aktifitas berdiri/duduk menggantung/kelelahan baru bengkaknya agak parah, tapi kalau di bawa tidur, punggung pengelangan kaki saya cenderung kembali mengempes.

Sejak masuk usia hamil 30 minggu ke atas, semakin tambah minggu bobot badan saya semakin berat, tugas kaki menopang berat badan pun semakin bertambah. Saya berdiri 30 menit tanpa duduk/istirahat aja rasanya mudah oleng, punggung kaki menggelembung akibat penumpukan cairan, ya tapi gimana aktifitas kerumahtanggaaan tetap harus jalan terus kan? 😎 . Efeknya saya jadi cepat lelah dan cepat tidur. Namunn… Sejak hamil 30 minggu ke atas itu juga saya mendaulat suami untuk melakukan pijat ringan disekujur lengan dan kaki saya. Mijetinnya pakai coconut oil, yang udah saya jabarkan panjang lebar di sini 😆 . Plus usap-usap punggung (kalau punggung ibu hamil katanya kurang baik kalau dipijat) sampai saya benar-benar tertidur. Setiap malam. Tanpa absen. Dan dilarang mengeluh. Hahaha. Soalnya beneran ngaruh banget loh, pijatan-pijatan dan usapan ringan sebelum tidur, merilekskan kaki tangan yang super duper pegel, jari-jari yang kemeng, dan punggung yang sering nyeri. Apalagi mijet-mijet dan ngusap-ngusapnya dengan penuh kasih sayang ye kan? 🙄 So you girls yang masih single, penting banget tuh nyari calon suami yang nantinya bukan cuma bersedia bikin kelian hamil, tapi juga harus bersedia mijitin pas kelian hamil tanpa pamrih! Catet ya! 😈

Frequent urination

Udah takjub pas hamil muda frekuensi pipis meningkat 2x lipat dibandingkan sebelum hamil. Kok bisa ya janin yang besarnya belum seberapa mempengaruhi frekuensi pipis, dan padahal saya juga termasuk orang yang “kaya raya” keringat 😆 Biasanya kalau sudah berkeringat pipisnya jadi jarang. Taunyaa… Pas masuk trimester akhir, frekuensi pipis lebih dahsyat lagi. Malam hari saya bisa bangun sampai 3-4x untuk ke toilet, padahal sudah disiasati tidak banyak minum sebelum tidur. Kalau siang? Jangan tanya deh, hihi sampe males kemana-mana soalnya dikit dikit mau pipis! 😀

NO SEX DURING THIRD TRIMESTER

Agak kesyel juga pas denger saran ini dari obgyn. #eeaa

Dari kontrol awal kehamilan obgyn saya udah ngewanti-wanti, “Pokoknya ya Mbak, Mas, usahakan tidak “berhubungan” pada kehamilan trimester awal dan trimester akhir.”

Trauma dari keguguran yang lalu, saya pokoknya manut aja apa kata Pak Dokter. Beneran stop sama suami di trimester awal dan akhir. Makanya kalau ditanya masa-masa paling membahagiakan saat hamil saya pasti jawab,”trimester kedua!” #eh, hahaha karena memang kondisi hamil sedang nyaman-nyamannya, nyaman berolahraga, jalan-jalan bepergian, banyak beraktifitas, termasuk juga sex activity.

Dan sebenarnya ga berat kok, karena pada trimester awal saya mengalami mual-mual di pagi dan malam hari. Jadi ya males aja, nanti banyak pausenya dikit-dikit pamit ke kamar mandi gegara eneg. Kalau pada trimester akhir, bobot badan udah berat ya bok, jam7 malem aja udah tepar capek banget rasanya, bentuk tubuh juga udah ga support mau di atas kesian suami takut menopang berat tubuh ini yang semlohai nan aduhai, mau di bawah kesian kakaboy takut kegencet bapaknya. #jiah #pegimane #terlaludijelaskan 😆

Agak aneh juga sih pas dengar saran (cenderung melarang) obgyn saya ini, disaat kebanyakan obgyn lain justru menyarankan si bapak sering-sering “kunjungan” di akhir-akhir masa kehamilan supaya mempercepat dan mempermudah proses persalinan, membuka jalan lahir buat si jabang bayi, dokter saya malah tegas menyarankan untuk tidak usah “dikunjungi”. Penasaran saya tanya, jadi menurutnya proses orgasme pada ibu hamil itu memang bisa memicu terjadinya kontraksi, selain itu areal V perempuan memendek ketika hamil besar karena tertekan rahim yang berisikan si jabang bayi. Terus dimana bahayanya? Bahanyanya, kalau kontraksinya terjadi ketika kehamilan ibu masih kurang bulan, khawatir bayi lahir prematur. Sementara posisi rahim yang semakin mendekati areal V, ada resiko pecah ketuban ketika proses penetrasi. Nah kalau sudah begitu, Ibu harus siap dengan segala kondisi apapun. Jadiiii biar tenang, aman dan nyaman, sepakat dulu deh sama suami, “puasa” lagi pas masuk trimester ketiga (padahal masih ketambahan masa nifas ya, #doh).

Anyway, ga bosen bosen saya bilang, kalau setiap obgyn punya pengetahuan, opini dan pengalaman masing-masing yaa… Banyak juga yang tiap malem si bayik “dikunjungi” bapaknya, lahir dengan kondisi yang sehat dan baik baik saja. Apa yang baik buat saya belum tentu baik buat anda atau sebaliknya. Pokoknya, yang penting sehat selamat Ibu dan bayi. 🙂

INCREASING VAGINAL DISCHARGE

Waktu di trimester dua pernah ada keluhan celana dalam sering basah, agak santai karena saya pikir paling keputihan biasa. Tapi pas jadwal kontrol ke obgyn kan saya utarakan, obgyn saya khawatir itu rembesan air ketuban (what? Baru juga trimester dua), akhirnya dikasih obat minum yang sebijiknya 100.000 😆 , Flucoral nama obatnya dan harus diminum hari itu juga. Besoknya emang berhenti sih ga banyak keluar cairan lagi, tapi sekitar 2 minggu kemudian (sudah masuk trimester tiga kalau gak salah) mulai keluar lagi tapi lebih sedikit dari sebelumnya.

Masuk trimester tiga, tiap hari saya ganti daleman hampir 4-5x, pokoknya menjaga supaya areal V tetap kering dan higienis, entah yang basah karena keringat atau memang keluar cairan. Cairannya normal-normal saja sih, bening tidak berbau dan tidak banyak. Namun setelah masuk minggu ke 32 kok hampir setiap hari keluar. Mengingat-ingat yang dibilang obgyn saya saat trimester kedua, jadi agak sedikit khawatir lah saya. Pas kontrol benar saja, saya diberi obat yang penggunaannya dimasukkan ke dalam areal V selama 5 malam berturut-turut sebelum tidur, Flagistatyn Vaginal Ovule nama obatnya. Pokoknya sangat diusahakan untuk meminimalisir kemungkinan bayi keluar kurang bulan.

Jadi intinya, peningkatan keluarnya cairan bening dari areal V sebenarnya wajar dengan semakin bertambahnya usia kehamilan namun harus tetap diwaspadai dan sepengetahuan dokter kandungan. Supaya (amit-amit) kalau ada apa-apa bisa segera bertindak cepat, atau bagusnya lagi mencegah sebelum terjadi. Stay safe, momma! 😉

PS: Saya masih punya 2 minggu menuju due date untuk mengalami masa-masa kehamilan trimester ketiga ini, saya sendiri penasaran gimana ya nanti pada akhirnya. Hihihi semoga sempat untuk meng-update postingan ini lagi setelah semua terlewati. Terimakasih sudah membaca ya 😉

Tamansari (47) - 38 weeks.JPG


PS-2: Setelah selesai bikin draft postingan ini, niatnya besoknya mau dibaca ulang pless nambahin foto-foto pendukung (ceileeeh), ternyata besoknya udah mules-mules! Btw, once again, terimakasih sudah membaca, ya! 😆

Baby… You’re a boy!

Gemeeesss…banget sama obgyn saya!! Terlepas dari keyakinan saya yang mantap memilih dan mempercayakan beliau untuk menangani masa-masa kehamilan saya, tapi ada satu hal yang sebenarnya saya agak kurang cocok. Beliau anti USG sebelum janin memasuki usia 28 minggu!! Usia janin loh ya. Bukan usia kehamilan.

By the way, obgyn saya namanya dr. Bharoto Winardi, Sp.OG, masih sama seperti obgyn pada kehamilan pertama saya saat mengalami keguguran. Kapan-kapan saya bikin postingan khusus cerita tentang gaya beliau as an obgyn deh ya (semoga sempat sebelum mbrojol 😛 ). Kenapa gak ganti padahal pernah mengalami keguguran? Yeee.. Kegugurannya kan bukan karena Pak Dokter, so far cuma beliau yang ‘klik’ di hati saya dan suami (duilee).

Balik lagi ke masalah USG. Saya sebenarnya gak ambisius-ambisius banget untuk USG pas lagi hamil muda. Fokus saya saat itu hanya menjaga janin saya tumbuh, berkembang dan dapat melewati masa-masa trimester pertama yang rentan keguguran, apalagi saya ada riwayat keguguran sebelumnya. Lagian, pada kehamilan muda sebelumnya, saya kan sempat mencoba pergi ke 3 obgyn untuk memilih obgyn mana yang akan saya percayakan, dan pada saat itu selalu di USG. Hasil USG-nya hanya terlihat lingkaran/bulatan kecil tanda adanya kehidupan yang dikelilingi oleh ruangan hitam (kantong rahim). Belum banyak yang bisa terbaca dari sana, pun calon janin masih akan terus berkembang katanya. Meskipun memang penting juga sih, untuk tau apakah itu kehamilan normal atau tidak normal (blighted ovum atau janin tidak berkembang atau kelainan lainnya). Jadilah saya tenang-tenang aja pas hamil muda, sang obgyn juga masih strict dengan gayanya, no USG sampai usia janin 28 minggu.

Minggu berganti minggu, perut saya pun semakin membuncit. Mulai masuk usia kehamilan 16 minggu, mulai banyak keluarga, sanak saudara, sahabat, teman karib, kerabat dan handai taulan (duh ile lengkap dah) yang menanyakan jenis kelamin calon anak saya. Katanya, harusnya sudah mulai bisa diprediksi jenis kelaminnya setelah usia kehamilan lewat 12 minggu. Nah loh. “Gw kan hamil yang sekarang belom pernah di USG sama sekali”, saya nge-batin. Nah kalo pertanyaan kayak gini udah muncul, biasanya saya jawab belum tau. Emang bener belum tau. Paling hanya ke beberapa orang keluarga, sahabat dan teman dekat aja saya cerita tipikal obgyn saya yang no USG sampai usia janin 28 minggu. Rempong cyin kalo tiap ada yang nanya dijelasin satu-satu. 😆

“Yes, besok jadwal ke dr. Bharoto pas usia kehamilan saya masuk minggu ke-18, nyoba peruntungan lagi ah, siapa tau Pak Dokter lagi khilaf, paksa dikit terus mau nge-USG”. Begitu pikir saya pas hendak kontrol rutin sama dr. Bharoto. Tapi… Masih zonk :mrgreen: . Beliau masih belum mau USG juga. Saya mulai khawatir, ada teman saya yang cukup dekat bertanya, “Gimana kita bisa tau janin tumbuh dan berkembang sesuai usianya dalam kandungan kalau ga di USG? Lo gak penasaran dia (janin) sehat atau enggak? Jenis kelaminnya apa dan lain-lainnya? Buat antisipasi aja sih (amit-amit) kalau ada apa-apa.” 😐

Dan iya, ada benernya juga. Terlebih saya tipikalnya gampang kepikiran sesuatu yang berujung kegalauan sepanjang minggu, hahaha. Akhirnya, 2 minggu setelah kontrol rutin which was usia kehamilan saya sudah masuk 20 minggu, saya memutuskan untuk melakukan USG mandiri, atas seizin suami pastinya (dan diizinin dong, kan minta izinnya pake merengek dan nangis bombay 😎 ).

Jadilah saya USG pertama kali di lab Parahita Jogja. Biayanya kalau tidak salah 250.000, little bit pricey, dan agak nyesel juga sih setelahnya karena menurut saya masih kemahalan, cuma karena udah keburu gak sabar, males survey-survey harga, udah terlanjur nanya, plus rasa penasaran dan deg-degan-nya, yaudahlah gapapa demi kau dan si buah hati (#eh). Mengenai harga USG sendiri memang relatif di berbagai rumah sakit/klinik bersalin/laboratorium. Tapi berdasarkan pengalaman saya setelahnya, harga USG di lab memang cenderung lebih mahal, tanpa pendampingan obgyn (eh ga tau deh di lab lain ada obgy-nya atau enggak), tapi memang hasilnya lebih detail 🙂

Rasanya nano-nano, senengnya campur aduk, pertama kali saya ngeliat ada kehidupan dalam perut saya. Ya ampun, Alhamdulillah ini makhluk mungil tumbuh sehat di rahim saya, dan sebentar lagi (Insya Allah) saya akan jadi seorang Mama! 🙂 . Denyut jantung sudah terdengar, normal dan sehat. Gerakan aktif. Lingkar kepala, tulang punggung, tangan, paha, kaki sudah sesuai ukuran seharusnya usia 20 minggu. Yang paling saya penasaran juga, jenis kelamin, jreng..jreng..jreng.. Masi nyumput, pemirsah! 😈 Wajah pun ga kelihatan jelas, nampak jelas justru kepala bagian belakang, posisi keseluruhan masih melintang. Ditunggu 10-20 menit, meski geraknya aktif, tapi tetep gak mau nunjukin wajahnya loh dia.. Ah si kakak ini pemalu rupanya! Percis kayak Papanya 😯 . So, USG mandiri saya, pertama kali tetap belum bisa mengetahui jenis kelaminnya. Tidak masalah buat saya, yang penting tumbuh kembangnya sesuai, sehat dan normal. Amin.

Eh tunggu deh, ini postingan kan judulnya “You’re a boy!”.. Terus tau dari mana? Ya akhirnya, sejak USG pertama di 20 minggu itu, saya hanya bersabar aja menunggu jadwal kontrol dua bulan selanjutnya dengan obgyn kesayangan. Ups! Saya juga ga cerita ke beliau sih kalau sudah USG duluan. Diem-diem aja 😀 .

Akhirnya waktu yang dinanti-nanti pun tiba! Saat itu usia kehamilan saya sudah memasuki 30 minggu, artinya usia janin saya 28 minggu, saatnya berkunjung ke Pak Dokter, yeay! Tapi…… Ketika mendaftar untuk kontrol rutin, ternyata dokter kandungan saya, dr. Bharoto, sedang terkena musibah kala itu, penyakit jantung yang dideritanya kembali menyerang dan beliau terpaksa dirawat intensif di rumah sakit. Kaget dan sedih ketika dengar berita itu. Tapi saya gak boleh egois, semoga Pak Dokter lekas sembuh. Kemudian karena kejadian ini, saya pun beralih ke dokter kandungan lainnya. Masih praktek di rumah sakit yang sama dengan dr. Bharoto, setelah tanya sana sini dan melihat banyak yang merekomendasikan, akhirnya saya beralih dulu sementara ke dr. Lusiana Irene, Sp.OG.

dr. Lusi lebih muda umurnya dari dr. Bharoto, ya dr. Bharoto memang sudah tergolong dokter senior dan sepuh. Tipikal dr. Lusi kalem sekali, pembawaannya tenang dan keibuan, konsultasi dengan beliau nyaman dan yang pasti, setiap pasien yang datang untuk kontrol rutin selalu di USG sama beliau. Info ini sebelumnya saya dapat dari beberapa teman yang menggunakan jasa beliau sebagai obgyn mereka.

Singkat cerita (tapi perasaan udah panjang lebar ye cerita gw! Hihihi 😆 ), di usia kehamilan 30 minggu akhirnya saya di USG lagi, kali ini langsung oleh dokter kandungan. Kalau sebelumnya USG di lab Parahita hanya dilakukan oleh dokter spesialis radiologi (lab-nya tidak menyediakan jasa dokter kandungan). Tidak se-deg-deg-an USG pertama sih memang, tapi rasa amaze saya masih sama. Apalagi sekarang si kakak semakin besar di perut saya, makin aktif, pertumbuhan masih sesuai dan (Insya Allah) lengkap, normal, sempurna. Dan… “Apa jenis kelaminnya sudah kelihatan, apa masih ngumpet, dok?” tanya saya. Dokter Lusi masih menggerakan alat USG di atas perut saya, “Laki-laki ini, Bu.” ujarnya. Sambil melihat bagian dalam perut saya yang tersorot alat USG, wuih benar! Ada dua “bola bekel” yang terpampang jelas di situ 🙂 . ALHAMDULILLAHH…!! Spontan saya mengucap syukur. Suami saya pun terlihat senyum-senyum. Bahagia. Sebenarnya apapun jenis kelamin calon anak pertama gak menjadi masalah, namanya juga anak pertama, apa saja. Tapi memang kecenderungan harapan kami dan Bapak Ibu Mertua saya memang inginnya berkelamin laki-laki terlebih dahulu. ALHAMDULILLAH (lagi). 🙂

IMG_20160108_160337474

Karena usia kehamilan saya sudah memasuki 30 minggu saat itu, jadwal kontrol rutin pun jadi semakin sering, dari yang 1 bulan sekali, menjadi 2 minggu sekali. Saya berharap pada kontrol selanjutnya dr. Bharoto sudah sembuh dari sakitnya agar bisa diperiksa oleh beliau saja. Bukan, bukan berati dr. Lusi ga enak meriksanya. Seperti yang udah saya jelasin di atas, dr. Lusi pembawaannya memang kalem, tenang, keibuan dan nyaman, tapi kok ya saya masih tetap lebih mantap dipegang oleh dr. Bharoto ya. Hehehe. Sayangnya, sampai jadwal kontrol selanjutnya, dr. Bharoto masih intensif dirawat di rumah sakit karena penyakit jantungnya.

Kontrol selanjutnya dijadwalkan ketika usia kehamilan saya 32 minggu, tapi saya nakal sedikit 😛 . Saya baru kontrol pas 33 minggu, toh vitamin dari dr. Lusi juga belum habis, sebelumnya dikasih 2 jenis vitamin yang sebenarnya cukup untuk 3 minggu namun saya dijadwalkan kembali kontrol dalam 2 minggu. Pada kontrol selanjutnya berjalan seperti biasa saja, saya juga di USG lagi oleh dr. Lusi. Saya kembali menanyakan apa jenis kelamin calon anak saya, karena berdasarkan cerita orang-orang (kebanyakan dengerin cerita orang sih 😀 ) prediksi jenis kelamin calon anak dalam kandungan masih dapat berubah-ubah sampai akhirnya benar-benar dilahirkan. Ada kemungkinan kesalahan baca alat USG, atau kondisi bayi dalam kandungan yang tidak terlalu jelas menimbulkan salah tafsir, atau yang paling tidak bisa dibantah, kehendak Tuhan 😀 . dr. Lusi pun kembali mengarahkan alat USG menuju perkiraan tempat jenis kelamin calon anak kami. “Masih sama Bu, ini masih terlihat jelas testikel dan penisnya. Yang menggumpal dua itu testisnya, yang panjang ini penisnya. Biasanya kalau sudah umur segini, prediksi alat USG sudah tidak berubah-ubah lagi.” Ujarnya.

IMG_20160206_113535442_HDR

Dengan mata nanar menatap layar USG, saya dan suami pun kembali tersenyum. Bahagia.

Yes, Baby.. You’re a boy!! Our kaka-boy!! 🙂

 

My Pregnancy Essentials

Awal-awal hamil (lagi), saya lebih menekan ego supaya gak terlalu excited. Pokoknya 3 bulan pertama harus dibawa santai sesantai-santainya. Mual, muntah, lemes, pusing, bosen, ya nikmatin aja… Pokoknya banyak menghabiskan waktu di rumah, jarang banget keluar rumah kalau bukan urusan ngisi perut sehubungan stok asupan mulut yang menipis, atau gak akan kemana-mana kalau gak dianter suami.

Kalau kondisi badan agak mendingan dikit, baru deh browsing-browsing tentang pregnancy life. Baca-baca artikel, forum-forum dan blog walking. Walaupun ujung-ujungnya jadi too much reading, terus parno sendiri! Hahaha. Suami gemes juga karena saya dikit-dikit parnoan, akhirnya dia menyarankan (cenderung melarang) untuk meminimalisir (malah stop kalo bisa) baca-baca artikel, soalnya saya kadang suka sulit memfilter info yang baik dan buruk sih. Maklum, masih kebawa trauma keguguran sebelumnya.

Memasuki usia kehamilan minggu ke-9 saya mulai perbanyak berfikir positif, setidaknya saya sudah melewati masa 8 minggu, masa-masa berat dan rentan yang saya alami pada kehamilan pertama. Saya mulai sedikit membaca artikel kehamilan dari hasil browsing, saya beralih research apa saja barang-barang yang harus saya punya untuk menghadapi dan menikmati masa kehamilan. Yeeee ujung-ujungnya belanja! Girls! 😛

Anyway, di bawah ini beberapa barang-barang yang menurut saya cukup penting untuk dimiliki/dipakai/dikonsumsi ibu hamil. Ga harus yang mahal sih, yang penting fungsi dan manfaatnya jelas! Here are my pregnancy essential items:

Pregnancy guideline book

Ini semacam kitab suci deh buat saya (haha lebay!). Secara saya memutuskan mengurangi cari informasi mengenai kehamilan via internet, saya merasa buku panduan kehamilan ini menjadi sangat penting. Ketika usia kehamilan memasuki awal 3 bulan, saya membeli buku “What to expect when you’re expecting”.

IMG_7155

Buku ini disarankan beberapa teman saya yang sudah berpengalaman hamil duluan dan dari hasil baca hasil review mengenai buku ini yang katanya bagus banget (indeed!). Saya sempat cari buku ini di Gramedia, tapi gak nemu, dapatnya di Periplus, mungkin karena buku import kali ya. Bukunya tebal, macam novel Harry Potter, berbahasa inggris yang menurut saya pilihan katanya juga mudah dicerna kok. Lengkap banget! Semua kegalauan, kecemasan, kekhawatiran selama hamil terjawab dalam buku ini (#tsahh). Walaupun untuk konsultasi lebih lanjut saya tetap menyarankan menghubungi obgyn masing-masing ya! 😀

Pas lagi hunting buku ini saya udah hampir impulsif tuh! Bawaannya pengen beli beberapa buku lagi supaya punya informasi sebanyak-banyaknya. Untung suami saya lebih rasional, hahaha karena buku ini cukup mahal (kalau tidak salah dulu beli harganya 188.000) dan melihat ketebalannya, suami khawatir saya ogah-ogahan bacanya, jadi coba beli satu buku ini dulu aja.

Dan.. Betul saja! Setibanya di rumah, baca-baca sekilas dulu informasi apa aja yang ada dalam buku ini, saya merasa tidak perlu beli buku lainnya. Selain memang sudah lengkap, kalau ada keluhan atau pertanyaan lebih lanjut, setiap bulan kan saya pasti kontrol ke obgyn. So, I suggest you to have (at least) this pregnancy guideline book, pregnant woman! 😉

Loose clothes (and underwear of course!)

Sebulan, dua bulan, belum banyak perubahan bentuk badan. Masih sama kayak sebelum hamil. Baju-baju dan daleman pun masih seukuran. Masuk bulan ketiga, baru deh terasa jins andalan kok susah dikancingin ya, eungap! Masuk bulan keempat, kelima dan seterusnya yuk deh dadah babay sama baju-baju kebanggaan. Jins dan celana pendek boro-boro bisa dikancingin, mau pakai aja mentok sampai paha! Rok, dres, baju jadi sempit semua. Pun begitu dengan underwear. Betis, paha, pinggul, perut mulai bertambah besar tanpa disadari 😛 . Meskipun, ada juga wanita hamil yang melembungnya cuma dibagian perut doang macam artis-artis ketjeh dan selebgram-selebgram itu. Jadi bersyukurlah para wanita hamil yang selain dianugrahi titipan calon anak sama yang Maha Kuasa plus dikaruniai tubuh yang tetap langsing selama hamil dan menyusui (oke, mulai iri) 😆

Masuk bulan ketiga, keempat, saya mulai belanja-belanja keperluan sandang hamil. Baju (atasan) hamil yang saya beli tergantung selera dan kebutuhan, oiya jangan lupa beli yang busui friendly ya! Biar ga perlu belanja baju menyusui lagi selama masa menyusui. Saya seringnya beli daster buat di rumah sih, adem pemirsah! Kalau dress saya jarang sekali beli, selain kok ya harga pregnancy (and busui friendly) yang pricey, saya memang kurang suka pakai dress. Dan benar juga, begitu hamil tua, betis dan (punggung) kaki saya mengalami pembengkakan, kurang estetis. Pakai dress hanya akan menonjolkan sisi tubuh saya yang semakin tidak sedap dipandang mata. 😆

Kalau celana (bawahannya), saya beli 3 legging hamil (sumpahh ini legging penolong banget deh! Sampai hamil tua masih bisa dipakai dan tetap stylish), 1 celana hamil standar buat kalau harus keluar rumah santai atau sekedar ke pasar, dan 1 jins hamil buat kalau perlu agak gayaan sedikit.

Maternity panties and nursing bras, you need these mom to be! Selama hamil, bra saya sampai naik 2 ukuran untuk cup dan lingkarnya! Hamil 5 bulan saya mulai memuseumkan bra-bra lama saya meskipun masih bagus, hehehe ga tau bisa kepakai lagi gak ya setelah melahirkan dan menyusui. Anyway, saya belanja bra baru sekalian yang bisa untuk menyusui, awalnya hanya beli 4, tapi karena saya gerahan banget, sehari bisa 3-4 x ganti bra, akhirnya saya tambah sekalian buat stok selama menyusui. Maternity panties-pun saya sesuaikan, biasanya dibagi ke dalam dua jenis, maternity panties for 4 – 6 months and 7 – 10 months.

Pregnancy Support Belt

Yes, sabuk hamil! Buat saya ini penting banget, ya walaupun pas beli agak visioner sih. Saya sudah punya sabuk hamil sejak usia kehamilan 14 minggu, perut baru keliatan melentung dikit langsung beli, hahaha. Begitu sampai rumah, langsung dicoba ternyata masih kebesaran (soalnya waktu beli ga bisa dicoba di tokonya). Anyway, ini penting banget buat calon Ibu yang aktifitas sehari-harinya kemana-mana naik motor sendiri (atau diboncengin). Intinya sabuk hamil ini akan support perut Ibu agar tetap stabil tidak mudah terkena guncangan, meskipun sudah memilih permukaan jalan yang bagus, but you never know kalau-kalau ada jalan tidak rata di depan kita yang tertutup mobil atau faktor lainnya kan? Tidak hanya berfungsi untuk ibu pengendara motor, mengendarai mobil atau sekedar jalan-jalan santai juga sabuk hamil ini bermanfaat banget untuk menyangga perut, kalau saya sih merasa lebih nyaman, pede dan gak terlalu waswas aja kalau berpergian keluar rumah pakai sabuk hamil.

Memang kekurangannya agak sedikit repot, as you know kan ya wanita hamil intensitas buang air kecilnya jadi lebih sering, jadinya bakal sibuk copot pasang sabuk plus kalau dipakai kelamaan, napas Ibu akan cepat lelah, eungap. Kalau saya, wajib menggunakan ini kalau berpergian naik motor (nyetir sendiri atau dibonceng suami), kalau naik mobil kadang pakai (kadang juga males sih) kalau jaraknya agak jauh sedikit dan ketika beraktifitas yang agak melelahkan seperti olahraga, jalan-jalan ke tempat wisata atau ke mall. Just to make sure si kakak tetep nyaman di perut mama 😉

Sabuk hamil saya baru terpakai maksimal memasuki 5.5 bulan, perut mulai membesar dan mulai pas dengan sabuknya, sampai saat ini sudah masuk 9 bulan masih bisa dipakai hanya saja tali sabuknya semakin pendek menyesuaikan lingkar perut, hehehe. Saya menggunakan sabuk hamil  merk new life, gak terlalu mahal, terjangkau dan fungsional!

Natural oil

Stretchmark. Yap! Terlepas dari kebahagiaan para wanita begitu mendengar dirinya hamil, stretchmark jadi salah satu momok yang paling menakutkan. Ya kan?? Hayoo ngaku aja deh 😛 . Mulai memasuki tengah masa trimester kedua sampai akhir masa trimester ketiga, biasanya si stretchmark ini mulai menjangkiti tubuh wanita hamil, faktor yang paling jelas karena adanya perkembangan janin dalam perut yang menyebabkan otot-otot atau sel-sel perut meregang. Dan, berdasarkan yang saya baca di buku “What to expect when you’re expecting”, stretchmark juga diturunkan secara genetik. Jadi kalau ibu kamu saat mengandung kamu mengalami (memiliki) stretchmark, kemungkinan besar kamu pun akan demikian. Kemungkinan besar, bukan berati tidak mungkin kan? 😉

Jaman sekarang banyak sekali alternatif pilihan untuk menghindari kerusakan struktur kulit, tapi kan karena sedang hamil kita jadi lebih berhati-hati untuk menggunakan produk kosmetik kulit dan sejenisnya ya. Biasanya pilihan akan jatuh ke produk-produk alami yang tidak menggunakan campuran bahan kimia (atau kalaupun iya hanya sedikit). Salah satunya dengan menggunakan minyak zaitun/olive oil, saya sendiri sejak awal kehamilan sudah menggunakan olive oil keluaran Wangsa Jelita. Waktu itu lagi browsing-browsing terus baca blog postingan Mbak Andra Alodita tentang review For Mom Series yang diproduksi oleh Wangsa Jelita, dan kayaknya bagus serta aman! Saya coba beli For Mom Series­-nya, dengan harapan yang tinggi olive oil-nya dapat mencegah timbulnya stretchmark. Sementara coconut oil-nya saya manfaatkan buat mengganti body lotion atau minyak pijet.

IMG_6872

Saya memutuskan untuk menggunakan natural oil sejak usia kehamilan saya masih sangat muda, kayaknya baru sekitar 7 mingguan gitu deh. Awalnya agak khawatir dengan baunya, namanya juga bahan dasarnya minyak kelapa ya, jadi khawatir bau nenek-nenek gitu 😀 Tapi anehnya, begitu saya pakai saya malah merasa cocok dan nyaman banget! Ya tetap bau minyak kelapa, tapi… karena kondisi saya lagi hamil muda yang sangat tidak bisa mentoleransi bau wangi-wangian, minyak kelapa terasa jadi sangat menenangkan dan menyenangkan, hahaha serius! Awal-awal penggunaan olive oil rada berasa fiktif sih (#eh), maksutnya itu kan saya masih hamil muda, perut belum keliatan perubahan, terus mikir ini ngapain sih make gini-ginian perut aman-aman aja kok ga ada stretchmark-nya. Untung pikiran itu buru-buru saya singkirkan, saya tetap rajin menggunakan olive oil, setiap habis mandi dan setiap mau tidur, saya oleskan merata di perut, payudara dan paha. And.. It works, gaes!! Saat ini usia kehamilan saya sudah memasuki 36 minggu (masuk 9 bulanan) dan belum muncul stretcmark sama sekali! Pas masuk 6-7 bulanan udah agak worry, udah menyiapkan segala bentuk keikhlasan kalau-kalau harus mengalami stretchmark, tapi Alhamdulillahhh ya selamat! 😀

Tapi pengalaman saya ga bisa dijadikan patokan juga sih, semua kan tergantung jenis kulit masing-masing orang. Wangsa Jelita sendiri juga tidak memberikan jaminan 100% terhindar dari stretchmark kalau menggunakan produk olive oil-nya. Yang bisa kita lakukan adalah ikhtiar semaksimal mungkin, hehehe. Faktor ketidak cocokan kulit dengan jenis minyaknya bisa saja terjadi, atau awalnya cocok, pas masuk bulan bulan kehamilan selanjutnya jadi tidak cocok karena kulit lebih sensitif sehingga malah jadi alergi. Anything can happen while you’re pregnant, mamas! 🙂

IMG_6870

Nah.. untuk coconut oil-nya saya juga cocok sekali, heran juga saya bisa blend in sama aromanya. Memang karena pas hamil muda sama sekali gak kuat nyium bau wangi-wangian sih, jadi saya stop yang namanya body lotion, parfum, dan kosmetik wangi-wangi lainnya. Coconut oil jadi pengganti body lotion saya, udah agak ngeri-ngeri “Ih badan dikasih minyak kelapa pasti lengket deh.” Eh tapi enggak looh.. begitu oles di kaki dan tangan langsung meresap aja gitu, bau minyak kelapanya juga tidak menyengat hanya tercium diawal-awal pemakaian, karena langsung meresap kali ya jadi aromanya tidak lama tercium, packaging-nya juga juwarakk.. Anti tumpah, botol kemasan spray, pokoknya memudahkan dibawa kemana-mana deh!

Masuk trimester ketiga, sebenarnya saya sudah mulai toleransi dengan bau wangi-wangian, sudah mulai bisa bersolek dan berparfum ria, coconut oil-pun berubah fungsi yang tidak kalah pentingnya, sebagai minyak pijit! Hahaha iya looohhhh…. wanita hamil tua itu, Subhanalloh, badannya cepet banget capek. Apalagi saya yang di rumah kesehariannya ga dibantu ART, berdiri agak lama sedikit, kaki bengkak, duduk kelupaan dengan kaki menggantung, betis dan kaki bengkak, tidur kaki gak diganjel bantal tinggi, mulai dari paha, betis, kaki bengkak. 😆 . Dan pembengkakan ini adalah pengalaman yang sangat sulit dihindari di trimester ketiga. Kalau sudah begini, saya mendaulat suami untuk mijetin saya, setiap malam, iya wajib. 😎

Panduan “Perawatan Bayi Baru”

Sempat terlena pas masuk usia kehamilan trimester kedua dan awal-awal trimester ketiga, sampai suatu sore saya jalan-jalan dengan suami ke gramedia. Niatnya sih cuma antar suami cari buku, sementara suami sibuk, saya menuju ke bagian rak koleksi buku bagian parenting and motherhood. Cuma liat-liat sekilas aja, tapi kemudian pandangan saya terhenti ketika melihat buku panduan perawatan bayi baru edisi keluaran majalah Ayah Bunda. Pikiran pendek saya, “Lha iya, merawat bayik ada panduannya ya, tadinya gw mau learning by doing aja“. Kebetulan untuk edisi buku tersebut ada yang segelnya sudah dibuka, sehingga memudahkan saya untuk melihat isinya. Kok saya langsung tertarik, hehehe lumayan lengkap panduannya untuk calon ibu baru seperti saya. Ya sebenernya bisa aja nanya ke mamah saya atau ibu mertua, bisa juga cari informasinya di internet (tapi akhir-akhir ini saya malas browsing-browsing! 😕 ). Akhirnya saya putuskan untuk membeli buku edisi panduan perawatan bayi baru ini. Isinya sangat membantu pemahaman saya sebagai calon ibu baru, secara teori mudah diingat, semoga pada prakteknya nanti menjadikan saya piawai merawat bayi. Doakan saya pemirsah! :mrgreen:

IMG_7156

Kayaknya essential items yang saya gunakan selama hamil seperti yang sudah saya jabarkan di atas aja deh, ya ada beberapa items lainnya tapi tidak saya beli khusus. Seperti matternity pillow atau bantal penyangga selama kehamilan itu juga katanya sangat membantu, tapi saya memanfaatkan bantal-bantal dan guling yang ada di rumah aja, secara banyak! 😆 .

Anyway, kalau kamu apa aja yang jadi essential items-mu selama hamil? Moggo kalau mau sharing di sini. Apapun, yang terpenting adalah selama menjalani masa-masa kehailan kamu tetap merasa nyaman and stay positive thinking, ya mamas! 🙂

Previous Older Entries

Carousel Of Memories

A Blog By Rahne Putri

titiw.com

See you on top!

CINTA RUHAMA AMELZ

See you on top!

Tuesday Notes

Before all will be gone, i write. So that it will be unforgotten.

Here, sit with me.

See you on top!

Opera Aksara

Kata adalah pengendali realita

Arkithesuperhero's Weblog

Just another WordPress.com weblog

miund.com

See you on top!

ideku handmade

See you on top!

kamera-kecil

See you on top!

et cetera

See you on top!

KepikdanJangkrik

See you on top!

Agus Mulyadi Blog

See you on top!

anakkutu

Life is so colorful yet simple

odiliARTS

Namaku Odilia Rengganis Tyaga Subiantoro. Ini catatan tentang aku.

moda obscura

See you on top!

%d bloggers like this: